Perpustakaan Sebagai Tempat Metamorfosis

Sid vicious (Sex Pistols Bassist and Vocalist)
doc. Pinterest

Setelah saya lulus SMA saya masuk jurusan ilmu perpustakaan, awalnya saya meremehkan sedikit tentang jurusan ini. Saya sempat bosan dengan jurusan saya dan berfikir bahwa saya salah pilih jurusan. Tetapi setelah beberapa semester saya berfikir bahwa saya perlu berkompromi dengan hidup. Mulai menerima pelajaran yang diajarkan saat perkuliahan, dan menerima apa adanya yang sudah saya pilih. Pada saat masuk universitas, saya tidak tahu apakah saya mencintai jurusan saya atau tidak, tetapi saya mencoba untuk menyukai perpustakaan. Saya memiliki firasat bahwa dunia sengaja dibuat untuk melawan orang-orang tertentu. Semakin lama, tampaknya semua orang melakukan hal yang sama, contohnya seperti membeli dan memakai barang dengan hartanya, hanya mendengarkan dari orang yang ahli, mencari pekerjaan untuk memperkaya diri. Saya merasa jika anda berbeda, anda akan dianggap menjadi orang aneh di lingkungan. Dengan memposisikan sebagai gerakan anti kemapanan, membuat punk memiliki stigma negatif di masyarakat. Mungkin karena Punk melakukan hal yang berbeda dengan yang orang biasa lakukan, mereka selalu dicap yang negatif.

Berdasarkan pemikiran saya, saya ingin menjadikan perpustakaan bukan hanya sekedar tentang membaca, perpustakaan juga mengubah fungsi buku menjadi fungsi sosial, buku menjadi media yang menggerakkan isu sosial. Dan jika bekerja di perpustakaan berarti saya dapat membantu orang dengan menghubungkan mereka dengan apa pun yang mereka inginkan atau perlu ketahui tanpa harus menghakimi, maka mungkin saya bisa menjadikan lingkungan sosial ini menjadi tempat yang lebih baik. Mungkin kita bisa saling membantu, dan mungkin kita bisa saling membantu menemukan jalan keluar dari kehidupan yang terlalu monoton ini. Lewat perpusakaan saya yakin dapat mengubah stigma negatif masyarakat terhadap Punk. Dimulai dengan cara “menyelipkan” pengetahuan seputar Punk dibagian koleksinya, tetapi ditempatkan dengan di rak berbeda dengan koleksi yang normal. Hal ini diharapkan akan membuat pengunjung penasaran dan mula mencari tau tentang koleksi tersebut. Pendekatan seperti ini harus terus berlanjut, agar men-sugesti pengunjung yang datang ke perpusakaan.

Jika rencana ini sudah berjalan dengan baik, akan berevolusi menjadi projek yang lebih luas dari saat ini, termasuk mengadakan pertunjukan musik punk di perpustakaan itu sendiri. Selain sebagai wadah untuk mendokumentasikan sejarah musik punk, saya juga akan menjelaskan bagaimana usaha yang tidak biasa ini dapat meningkatkan visibilitas tidak hanya untuk punk tetapi juga untuk proyek perpustakaan kedepannya. Melalui keterlibatan komunitas, projek ini akan terus berkembang untuk mengejar tujuan yang lebih luas daripada membangun koleksi, memposisikan perpustakaan sebagai pendukung langsung komunitas musik punk saat ini. Penjangkauan dan keterlibatan aktif masyarakat merupakan elemen fundamental dari proyek ini sejak awal. Selain membangun koleksi Punk, salah satu bagian paling menarik dari projek ini telah melibatkan publik melalui program, terutama pertunjukan punk yang diselenggarakan.

            Salah satu manfaat dari penekanan pada pemrograman ini adalah peningkatan profil koleksi yang diperoleh sejak awal projek. Koleksi punk akan sangat menarik oleh peneliti akademis, siswa sekolah menengah, dan penggemar Punk. Hal ini tentu saja akan mengambil animo masyarakat, dan mengubah citra Punk bahwa Punk tidak seburuk dan senegatif seperti yang sudah dibayangkan orang-orang.





Comments

Popular posts from this blog

“Love and Peace Are Eternal” –Hippies

Sejarah Band Punk "Bad Religion"

Perspektif "P.U.N.K"